i8

SELAMAT DATANG DIBLOG SAYA

Senin, 22 April 2013

perkembangan ekonomi didaerah perbatasan malaysia

 Perbedaan yang sangat mencolok dapat dilihat dan dirasakan apabila kita berkendara menggunakan jalur nasional dari Pontianak ke Entikong menuju Kuching dan kembali dari Kuching menuju Entikong. Meskipun jalan Trans Kalimantan dari Pontianak ke Entikong saat ini jauh lebih baik dan sebagian besar telah beraspal, namun di sana-sini terdapat jalan-jalan yang ditambal sulam dan berlubang-lubang. Belum lagi masih ada ruas jalan, sekitar 32 km lebih, yang dalam tahap pengerasan, sehingga pengemudi yang melewatinya harus terlonjak-lonjak di dalam mobilnya. Sesampainya di Entikong, kita pun dapat menemukan banyak jalan-jalan poros yang masih berupa jalan tanah, kerikil, dan batu. Selain itu, terdapat ±50 jalan setapak dan berpuluh-puluh jalan tikus yang menghubungkan 55 desa di Kalimantan Barat dengan 32 kampung di Sarawak. Apabila malam menjelang, Trans Kalimantan terselimuti pekatnya kegelapan malam karena fasilitas lampu jalan masih belum ada. Hanya lampu-lampu mobil dan sesekali sepeda motor yang jadi penerang para pengendara yang melintas. Padahal, jalan-jalan di Kalimantan tidak memiliki bahu jalan karena biasanya langsung berada di tepi tebing, jurang, ataupun sungai kecil, dan deretan rumah penduduk.

tanggapan :
Wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia umumnya jauh dari jangkauan modal sehingga kondisinya tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan wilayah lain. Menurut sumber di Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, terdapat 26 kabupaten yang terletak di perbatasan. Semua kabupaten ini tercatat masuk dalam kategori daerah tertinggal.

 Keadaan ekonomi yang tertinggal di wilayah perbatasan bukanlah situasi yang sangat khusus, karena keadaan serupa dapat ditemui di daerah lain yang bukan perbatasan. Namun wilayah perbatasan mempunyai arti penting tersendiri. Kita sudah sering mendengar pendapat berbagai kalangan tentang arti penting tersebut, sehingga berkonsekuensi diperlukannya prioritas pembangunan daerah perbatasan. Dari aspek pertahanan, kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan berkaitan dengan keadaulatan nasional suatu bangsa.

Banyak kejadian warga di perbatasan yang memilih pindah kewarga-negaraan (WNI ke Malaysia) karena kesenjangan ekonomi kedua negeri. Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa penyelundupan kayu ilegal banyak terjadi melalui daerah ini. Dari sini dapat ditarik pelajaran, bahwa kecintaan terhadap tanah air bukanlah seperti wahyu dari langit, melainkan dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi dan kultural yang melingkupinya. Dapat dibayangkan, bila seorang anak WNI harus menempuh jalan berpuluh kilometer untuk bersekolah, sementara di seberangnya, anak warga negara Malaysia dapat dengan mudah mengakses sekolah, dengan kualitas yang lebih baik pula.

Dari aspek lain, disebutkan bahwa daerah perbatasan adalah “serambi” suatu negara, sehingga harus dikondisikan sebaik mungkin. Terlepas dari arti penting tersebut di atas, kita melihat persoalan ketertinggalan di daerah perbatasan berhubungan dengan kebijakan yang memusatkan akumulasi modal di wilayah Jawa, atau lebih khusus lagi, Jakarta. Kebijakan ini mengakibatkan tertinggalnya daerah-daerah di luar Jawa, dan imbasnya adalah daerah perbatasan yang berada paling jauh atau terluar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar